Rabu, 15 Desember 2010

TASYJIIR - KITAB MATAN BINA' WAL ASASI

Klik pada gambar untuk membesarkan

Klik pada gambar untuk membesarkan

p/s: Assalamu'alaikum : Ini adalah tasyjiir (gambar rajah pokok) 35 bab dari Kitab Matan Bina' wal Asasi didalam mempelajari ilmu Shorof. Bagi sesiapa menghendakinya akan tasyjiir ini , maka al-faqir membenarkan ia mengambilnya agar dipermudahkan didalam memahaminya. al-Faqir telah pun menyediakan dua gambaran rajah yang berwarna dan hitam putih. moga bermanfaat & diberkati Allah s.w.t.
-jika ada kekurangan dan teguran .. .alfaqir alu-alukan jazakallah khairan khatsira :)

Kamis, 09 Desember 2010

Bagaimana I'lal اِسْتَقَامَ dan اِسْتِقَامَةً



Terdapat pertanyaan bagaimana perubahan fi’ilاِسْتَقَامَ kepada اِسْتِقَامَةً dari segi wazannya, I’lalnya?

Alhamdulillah, penulis akan menerangkan sedikit point-point berbentuk soal jawap bagi kita mengetahui gambaran umum dan seterusnya kepda penerangan yang perubahan kalimat yang diatas.

1. اِسْتَقَامَ kalimat apa ? kalimat Fi’il
2. Fi’il apa ? fi’il madhi yang yang stulasi mazid yang mu’tal ain.
2. Apa wazannya ? اِسْتَفْعَلَ
3. Jika boleh di tashrif maka harus ditashrifkan:

klik pada gambar



4. Kemudian bina’nya apa ? Ajwaf Wawu

(Ajwaf bermaksud dari segi bahasa adalah “yang berongga” atau “berlubang” kerana kosong huruf yang di tengah (ain fi’il) dari huruf shohih)


1) Penerangan اِسْتَقَامَ


1-Asal, 2- Pindah, 3- Ganti


اِسْتَقَامَ asalnya اِسْتَقْوَمَ mengikut wazan اِسْتَفْعَلَ . Kemudian harokat wawu’ nya اِسْتَقْوَمَ dipindah pada huruf sebelumnya (huruf qaf) kerana :


Menurut Qa’idah : Tentang memindahkan harokat wawu atau wawu ya’ pada huruf sebelumnya yang mati.


Apabila ada wawu atau ya’ berharokat terletak sesudah huruf shohih yang mati (sukun), maka harokatnya harus dipindahkan pada huruf shohih yang mati itu”.
“Apabila harokat yang dipindah itu sesuai dengan wawu atau ya’ , maka wawu atau ya’ itu tetapkan (tidak diganti)”.
“Apabila tidak sesuai maka wawu atau ya’ itu wajib di ganti dengan huruf yang sesuai dengan harokat yang di pindah itu”.




Lalu kemudian wawu pada اِسْتَقَوْمَ diganti alif karena asalnya ia berharokat dan sekarang ia terletak sesudah fathah. Maka menjadi ia اِسْتَقَامَ


Menurut Qa’idah: Tentang menganti wawu atau ya’ dengan alif.


Apabila ada wawu atau ya’ berharokat dan huruf sebelumnya berharokat fathah, maka wawu atau ya’ itu harus di ganti alif”.


Terdapat juga Qa’idah daripada matan al-Alifiyyah Ibn Malik, Halaman 215
فصل في اجتماع الواوِ والياء إلخ. (Pasal pada menjelaskan berkumpulnya wawu dan ya’)


مِنْ وَاوٍ أَوْ يَاءٍ بِتَحْرِيْكٍ أُصِلْ أَلِفًا ابْدِلْ بَعْدَ فَتْحٍ مُتَّصِلْ


2) Penerangan اِسْتِقَامَةً


1-Asal, 2-Pindah, 3-Ganti, 4-Buang alif & Ganti ta' diakhir kalimat


اِسْتِقَامَةً asalnya اِسْتِقْوَامًا mengikut wazan اِسْتِفْعَالاً . Kemudian harokatnya wawu di pindah pada huruf shohih sebelumnya menjadi اِسْتِقَوْامًا kerana :


Menurut Qa’idah : Tentang memindahkan harokat wawu atau ya’ pada huruf sebelumnya yang mati.


Apabila ada wawu atau ya’ berharokat terletak sesudah huruf shohih yang mati (sukun), maka harokatnya harus dipindahkan pada huruf shohih yang mati itu”.
“Apabila harokat yang dipindah itu sesuai dengan wawu atau ya’ , maka wawu atau ya’ itu tetapkan (tidak diganti)”.
“Apabila tidak sesuai maka wawu atau ya’ itu wajib di ganti dengan huruf yang sesuai dengan harokat yang di pindah itu”.


Kemudian lalu wawu pada اِسْتِقَوْامًا diganti alif maka menjadi اِسْتِقَاامًا , maka berkumpullah dua alif , lalau salah satu dari dua alif tersebut dibuang dan diganti dengan ta’ yang diletakkan diakhir kalimat kerana :


Menurut Qa’idah : Tentang Memberi ganti alif dengan ta’ .


Apabila ada fi’il bina’nya ajwaf mengikuti wazan أَفْعَلَ atau اِسْتَفْعَلَ , maka dalam masdarnya wawu atau ya’ nya harus diganti alif, lalu alif itu dibuang dan diberi ganti ta’ yang diletakakn di akhir kalimat”.


Apabila sudah digantikan, maka menjadi ia اِسْتِقَامَةً .




Terdapat juga Qa’idah daripada matan al-Alifiyyah Ibn Malik, Halaman 218
فصل في نقل الحركة إلى الساكن قبلها (pasal memindahkan harokat pada huruf mati sebelunya).


وَمَفْعَلٌ صَحِّحَ كَالْمِفْعَالِ * وَأَلِفِ الإِفْعَالِ واسْتِفْعَالِ
أَزِلْ لِذَا الإِعْلاَلِ والتَّا الْزَمْ عِوَضْ * وَحَدْفُهَا بِالنَّقْلِ رُبَّمَا عَرَضْ


Wallahu ‘alam

P/s : jika ada kesalahan dan kekurangan dari apa yang diatas , sila memberi panduan dan bimbingan kepada alfaqir. Hanya ini yang mampu dan maklumi alfaqir. Sumber rujukkan, sila rujuk kitab : Qawa’idul shorfiyyah, Maqasid Nahwiyyah, Syarah Khailani li tasrifil ‘izzi , Matan alfiyyah ibn Malik.

Senin, 06 Desember 2010

Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah (Karya KH. M. Ma’shum bin Ali)




Kitab الأمثلة التصريفية yang dikarang oleh Syeikh K.H Muhamamd Ma’sum Bin Ali ini menerangkan tentang ilmu sharaf yang dipelajari di Pondok-pondok Pesantren sama ada di Indonesia ataupun di Malaysia. Susunannya yang sistematis dan teratur, sehingga mudah difaham dan dihafal bagi para penuntut ilmu. kitab ini menjadi salah satu bidang study yang tetap dikaji. Di Indonesia kitab ini masyhur dengan julukan “Tasrifan Jombang”. Keagungan kitab ini tak hanya terletak pada ilmu sharaf. Bila diteliti ternyata memuat makna filosofi tinggi.

Pada contoh fi’il tsulasi mujarrad misalnya, keenam kalimat tersebut yaitu :

فَعَلَ- يَفْعُلُ (نَصَرَ – يَنْصُرُ)

فَعَلَ- يَفْعِلُ (ضَرَبَ – يَضْرِبُ)

فَعَلَ- يَفْعَلُ (فَتَحَ – يَفْتَحُ)

فَعِلَ- يَفْعَلُ (عَلِمَ – يَعْلَمُ)

فَعُلَ- يَفْعُلُ (حَسُنَ – يَحْسُنُ)

فَعِلَ- يَفْعِلُ (حَسِبَ – يَحْسِبُ)

Dan terdapat juga dari sistematis susunan keenam kalimat diatas dirangkumi menjadi sebuah nazham yaitu :

فَتْحُ ضَمٍّ فَتْحُ كَسْرٍ فَتْحَتَانِ * كَسْرُ فَتْحٍ ضَمُّ ضَمٍّ كَسْرَتَانِ

Bahkan, ia bukan sahaja mempunyai sistematika penulisan yang unik, malah memiliki filososfi yaitu :

Bahwa “pada awalnya sang santri/penuntut ilmu ditolong oleh orang tuanya (نَصَرَ)(nashara), sesampainya di pondok pesantren ia dipukul dan dididik (ضَرَبَ) (dlaraba). Kemudian setelah tersakiti dari dipukul, maka hatinya akan terbuka (فَتَحَ) (fataha). Seterusnya barulah ia akan menjadi orang yang mengetahui/pintar (عَلِمَ) (‘alima) dan seterusnya menuntut ia agar berbuat baik (حَسُنَ) (hasuna). maka ia berharap masuk surga di sisi Allah swt (حَسِبَ) (hasiba).

Kitab ini yang terdiri dari 60 halaman ini, telah diterbitkan oleh banyak penerbit, yang tidak sulit untuk dimiliki. Kitab yang kecil tetapi manfaat yang besar buat santri/penuntut ilmu dalam mengenal ilmu shorof, moga Allah melimpahkan rahmatNya dan kebaikkan serta redhaNya kepada Penulis kitab Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah (Karya KH. M. Ma’shum bin Ali) di negeri akhirat. Amin ya rabbal ‘alamin.


Jumat, 14 Mei 2010

FILSAFAT ILMU NAHWU

Oleh : H. Muhammad Jamhuri Lc. MA


Dalam kitab “Al Kawakib Al Durriyah” diceritakan, Syeikh Imam Al-Sonhaji, pengarang sebuah kitab nahwu, tatkala telah rampung menulis sebuah buku tentang kaidah nahwu yang ditulisnya dengan menggunakan sebuah tinta, beliau mempunyai azam untuk meletakkan karyanya tersebut di dalam air. Dengan segala sifat kewara’annya dan ketawakkalannya yang tinggi, beliau berkata dalam dirinya: “Ya Allah jika saja karyaku ini akan bermanfaat, maka jadikanlah tinta yang aku pakai untuk menulis ini tidak luntur di dalam air”. Ajaib, ternyata tinta yang tertulis pada lembaran kertas tersebut tidak luntur. Dalam riwayat lain disebutkan, ketika beliau merampungkan karya tulisnya tersebut, beliau berazam akan menenggelamkan tulisannya tersebut dalam air mengalir, dan jika kitab itu terbawa arus air berarti karya itu kurang bermanfaat. Namun bila ia tahan terhadap arus air, maka berarti ia akan tetap bertahan dikaji orang dan bermanfaat. Sambil meletakkan kitab itu pada air mengalir, beliau berkata : “Juruu Miyaah, juruu miyaah” (mengalirlah wahai air!). Anehnya, setelah kitab itu diletakkan pada air mengalir, kitab yang baru ditulis itu tetap pada tempatnya.

Itulah kitab matan “Al-Jurumiyah” karya Imam Al Sonhaji yang masih dipelajari hingga kini. Sebuah kitab kecil dan ringkas namun padat yang berisi kaidah-kaidah ilmu nahwu dan menjadi kitab rujukan para pelajar pemula dalam mendalami ilmu nahwu (kaidah bahasa Arab) di berbagai dunia. Selain ringkas, kitab mungil ini juga mudah dihafal oleh para pelajar.

Di sini penulis tidak hendak mengemukakan kaidah ilmu nahwu dengan segala pembagiannya. Yang akan penulis kemukakan adalah, bahwa di dalam kitab yang melulu membahas tata bahasa Arab, ternyata kalau dikaji lebih dalam lagi, ia memiliki filsafat-filsafat hidup dan nasehat yang sangat berharga bagi setiap generasi terutama bagi kita sebagai ummat Islam. Filsafat hidup yang termaktub dalam kitab itu sendiri merupakan “hukum” atas suatu kalam atau kalimat dalam ilmu nahwu. Berikut ini adalah contohnya:


Bersatu kita terhormat

Dalam ilmu nahwu, “dhommah” adalah salah satu tanda dari tanda-tanda rofa”. Secara lafdziah kata dhommah berarti bersatu. Sedang kata rofaberarti tinggi. Maksudnya, bila kita dapat bersatu dengan sesama, dapat menjaga kesatuan dan persatuan, dapat mempererat tali ukhuwah, bukan tidak mungkin kita akan menjadi umat yang terhormat dan tinggi (rofa’) di antara bangsa dan umat lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :Bersatulah kalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian berpecah belah (Ali Imran: 103). Sementara untuk mendapatkan derajat tinggi harus memenuhi syarat, di antaranya adalah iman. Firman Allah SWT: Janganlah kalian merasa hina dan sedih, padahal kamu tinggi jika kamu beriman (Ali Imran: 139).

Ada beberapa keriteria sehingga orang bisa mendapatkan derajat rofa’ (tinggi). Sebagaimana dijelaskan dalam Al Jurumiyah, bahwa di antara kedudukan kalimat yang mendapat hukum rofa’ atau marfu’ (yang diberi penghargaan tinggi) adalah: fa’il, naib fa’il, mubtada’, khobar dan tawabi’ marfu(sesuatu yang mengikuti segala kalimat marfu’) seperti sifat (na’t), badal, taukid dan ‘atof. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Fa’il (aktivis). Bila kita ingin menjadi orang yang dihargai, tinggi dan tidak terhina, maka hendaklah kita berbuat, bekerja dan berusaha, tidak berpangku tangan atau hanya mengharap belas kasih orang lain. Hanya orang yang aktif dan pro aktiflah (fa’il) yang membuahkan karya-karya dan amal dan menjadi terhormat di lingkungannya. Firman Allah SWT: Dan katakanlah (hai Muhammad): Bekerjalah kalian! sesungguhnya pekerjaan kalian akan dilihat oleh Allah, RasulNya dan kaum mu’minin(At Taubah : 105). Sabda Nabi Muhammad SAW: “ tangan di atas (pemberi) lebih baik dari tangan di bawah(peminta)”.

2. Naib fa’il (mewakili tugas-tugas aktivis) adalah tipe kedua orang yang mendapat derajat tinggi. Meskipun ia berkedudukan sebagai wakil, tapi ia menjalankan pekerjaan yang dilakukan fa’il walau harus menjadi penderita dalam kedudukannya sebagai kalimat. Sebagai contoh dalam hal ini adalah sahabat Ali ra. Beliau pernah menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya dengan resiko yang tinggi berupa pembunuhan yang akan dilakukan para pemuda musyrikin Makkah saat Rasulullah berencana melaksanakan hijrah ke Madinah. Contoh lain adalah para huffadz yang diutus Rasulullah untuk mengajarkan agama atas permintaan salah satu suku di jazirah Arab, namun nasib mereka naas dikhianati dan dibunuh para pengundang. Mendengar hal itu, Rasulullah pun membacakan do’a qunut nazilah sebagi rasa ta’ziyah. Dengan do’a dari Rasul tersebut, tentu saja mereka yang wafat mendapat kedudukan mulia di sisi Allah, juga oleh sejarah.

3. Mubtada (pioneer), orang yang pertama melahirkan ide-ide positif kemudian diaplikasikannya di tengah-tengah masyarakat sehingga berguna bagi kehidupan manusia adalah orang yang pantas mendapat derajat rofa’ (tinggi). Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda: “ Barang siapa memulai sunnah hasanah (ide positif dan konstruktif) maka baginya pahala dan pahala orang yang melakukan ide (sunnah) tersebut. Ada pepatah Arab mengatakan demikian:

الفضل للمبتدئ وان أحسن المقتدى

“Perhargaan itu hanyalah milik orang pertama memulai, walaupun orang yang datang kemudian dapat melakukannya lebih baik

4. Khobar (informasi). Mereka yang memiliki khobar (informasi) itulah orang yang menguasai. Demikian salah satu ungkapan dalam ilmu komunikasi. Di dunia ini sebenarnya tidak ada orang yang lebih banyak ilmunya dari seorang lain. Yang ada adalah karena orang itu lebih banyak mendapatkan dan menyerap informasi dari lainnya. Membaca buku, apapun buku itu, sebenarnya kita sedang menyerap sebuah informasi. Dan sebanyak itu informasi yang kita dapatkan sebesar itu pula kadar maqam kita. Informasi dapat kita peroleh melalui berbagai cara, termasuk di dalamnya pengalaman.

5. Tawabi’ Marfu (Mereka yang mengikuti jejak langkah orang yang mendapat derajar tinggi). Jelas, siapa saja yang mengikuti langkah dan perjuangan mereka yang mendapat derajat tinggi, maka mereka akan dihargai. Allah berfirman:Sungguh dalam diri Rasulullah ada suri tauladan yang patut ditiru bagimu. Ayat ini menegaskan kepada kita untuk mengikuti Rasulullah yang telah mendapatkan maqoman mahmuda (kedudukan terpuji) di sisi Allah agar kita mendapat hal yang sama di sisiNya. Di samping itu, salah satu orang yang akan mendapat derajat tinggi adalah para penuntut ilmu. Firman Allah SWT : Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan mereka yang diberi ilmu dengan beberapa derajat (Al Mujadalah: 11). Ilmu adalah warisan para nabi, dan siapa yang mengikuti (tabi’) langkah nabi ia akan mendapat kehormatan (rofa’)


Berpecah Belah Adalah Kerendahan

Tanda kasroh dalam ilmu nahwu adalah salah satu tanda hukum khofadh. Secara harfiah, kata kasroh bermakna pecah atau perpecahan. Sedangkan kata khofadh bermakna kerendahan atau kehinaan. Dengan demikian suatu umat akan mengalami kerendahan dan kehinaan apabila mereka melakukan perpecahan, tidak bersatu dan tidak berukhuwah. Wajar saja bila para musuh menyantap dengan lahapnya kekayaan kaum (muslimin) disebabkan mereka tidak mau bersatu dan menjaga persatuan. Inilah yang pernah dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad SAW empat belas abad lalu, tatkala beliau menyatakan bahwa suatu saat umat Islam akan menjadi santapan umat lain seperti srigala sedang menyantap makanan. Para sahabat bertanya: “Apakah saat itu jumlah kita sedikit ?” Rasul menjawab: “Tidak, justru kalian saat itu menjadi mayoritas, tapi kualitas kalian seperti buih. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari musush-musuh kalian kepada kalian dan Allah akan mencampakkan dalam diri kalian penyakit al-wahan”. Sahabat bertanya: “apakah penyakit al-wahan itu?” Rasul SAW menjawab: “cinta dunia dan takut mati”.

Dengan penyakit itulah, umat Islam mengalami perpecahan. Sebab yang diperjuangkan bukan lagi agama mereka, tetapi materi dan keduniaan yang pada akhirnya tidak lagi mengindahkan kekompakkan dan persatuan di antara sesama ummat Islam.

Di samping itu sifat buih, seberapa banyak dan sebesar apapun, ia akan terombang-ambing oleh angin yang meniupnya. Itulah tamsil umat Islam yang tidak memperkokoh persatuan.

Hal inilah yang diisyaratkan oleh Al-Sonhaji, bahwa penyebab segala isim (nama) menjadi makhfudh (rendah dan hina) adalah karena tunduk dan ikut-ikutan terhadap huruf khofad (faktor kerendahan). Atau dalam istilah nahwu lain, isim menjadi majrur (objek yang terseret-seret/mengikuti arus) karena disebabkan mengikuti huruf jar (faktor yang menyeret-menyeretnya) . Karena itu, hendaknya ummat Islam selalu menjadi ikan hidup di tengah samudera. Meskipun air samudera terasa asin, namun sang ikan hidup tetap terasa tawar. Sebaliknya, jika ummat ini bagaikan ikan mati, maka ia dapat diperbuat apa saja sesuai keinginan orang lain. Bila diberi garam ia akan menjadi ikan asin dan lain sebagainya.


Berusahalah, Maka Jalan Akan Terbuka

Dalam kaidah ilmu nahwu, di antara tanda nashob adalah fathah. Secara lafdziah, kata nashob bermakna bekerja dan berpayah-payah. Sedang kata fathah bermakna terbuka. Dalam hal ini, maka mereka yang mau bekerja dan berupaya serta berpayah-payah (nashob) dalam usaha, maka mereka akan mendapatkan jalan yang terbuka (fathah). Sesulit apapun problem yang dihadapi, jika berusaha dan berpayah-payah untuk mengatasinya, maka insya Allah akan menemukan jalan keluarnya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang berbuat di antara kalian dari laki-laki dan wanita. (Ali Imran: 195). Dalam Kitab Diwan As-Syafi’i. Imam Syafi’i pernah menulis bait syair sebagai berikut:

سافر تجد عوضا عمن تفارقه # وانصب فان لذيذ العيش فى النصب

اني رأيت وقوف الماء يفسده # ان سال طاب وان لم يجر لم يطب

Pergilah bermusafir, maka anda akan dapatkan pengganti orang yang anda tinggalkan

Bersusah payahlah !, karena kenikmatan hidup ini didapat dengan bersusah payah (nashob).

Sungguh aku menyaksikan mandeg-nya air dapat merusakkan dirinya

Namun bila ia mengalir ia menjadi baik. Dan jika menggenang ia jadi tidak baik.


Dalam bait syair ini, Imam Syafi’i ingin menegaskan, bahwa orang yang berpangku tangan dan tidak mau bekerja keras akan menjadi rusak, bagaikan rusaknya air yang tergenang sehingga menjadi comberan yang kotor dan bau. Sebaliknya, bila ia mau bersusah payah dan bergerak maka ia bagaikan air jernih yang mengalir. Indahnya kenikmatan hidup ini terletak pada bersusah payah.

Bahkan al-Quran mengisyaratkan kepada kita untuk tidak berpangku tangan di tengah waktu-waktu senggang kita. Bila usai melakukan satu pekerjaan, cepatlah melakukan hal lain. Firman Allah SWT:

فاذا فرغت فانصب

“Dan jika kamu selesai (melakukan tugas), maka lakukanlah tugas lain (nashob)” (Al Insyiroh: 7).


Kepastian Akan Menimbulkan Rasa Tenang

Kaidah lain yang terdapat dalam ilmu nahwu adalah, bahwa di antara tanda jazm adalah sukun. Secara lafdziah, kata jazm bermakna kepastian. Sedang kata sukun berarti ketenangan. Ini mengajarkan kepada kita, bahwa kepastian (jazm) akan melahirkan rasa ketenangan (sukun). Orang yang tidak mendapatkan kepastian dalam suatu urusan biasanya akan merasakan kegelisahan. Sebagai contoh seorang remaja yang ingin melamar seorang gadis kemudian tidak mendapatkan kepastian, dia akan mengalami kegelisahan. Demikian juga orang yang hidupnya sendiri, ia tidak mendapatkan ketenangan. Oleh karena itu Allah SWT mengisyaratkan kita agar mempunyai teman pendamping dalam hidup ini agar mendapat ketenangan. Firman Allah SWT:

ومن آياته ان خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا اليها

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah adalah Ia menjadikan bagimu pasangan dari jenismu (manusia) agar kalian merasa tenteram kepadanya” (Ar Rum: 21).


Wallahu’alam


*) H. Muhammad Jamhuri, Lc MA. Adalah Alumni Pondok Pesantren Daarul Rahman Angkatan 11 (th 1990), Kini tinggal di Kota Tangerang dengan amanah sebagai Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Asy-Syukriyyah-Tangerang/

*) Makalah ditulis di Makkah Al Mukarramah, Rabu 5 Sya’ban 1421H/1Nopember 2000 M


Sumber Bahan : http://ikdar.com/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=58

Jumat, 30 April 2010

Kitab Jami’ Ad-Durus al-Lughah Al-‘Arabiyyah



Kitab Jami’ Ad-Durus al-Lughah Al-‘Arabiyyah ini terkenal dari kalangan penuntut ilmu Islam, dan ditulis oleh seseorang ulama’ yang produktif dan penyair berkebangsaan Lebonon, yaitu Syeikh Mushtafa bin Muhammad Salim Al-Ghulayaini .


Beliau lahir di Beriut pada tahun (1303 H/ 1886 M). Ketika Usia remaja, beliau kemudian pergi ke mesir dan di sana beliau berguru kepada Syeikh Muhammad ‘Abduh di Universiti Al-Azhar serta mendalami ilmu-ilmu syariat, bahasa dan sastera. Syeikh Musthofa al-Guhayaini pernah menerbitkan majalah An-Nibras sambil mengajar di beberapa Madrasah. Beliau menyusun kitab Jami’ Ad-Durus al-Lughah Al-‘Arabiyyah ini mengunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami bagi para penuntut Ilmu Islam pemula, disertai contoh-contoh syair dan syawahid-nya, sehingga tidak aneh jika kitab ini pada tahun 1986 telah naik cetak ulang yang ke-21.


Dalam kitab ini, Syeikh Mushtafa membagi tiga juz perbahasan disertai syawahid syair karya Muhammad Haurai, sehingga dapat dikatakan bahawa kitab Al-Jami’ ini termasuk ensiklopedia nahwu dan shoraf. Beliau wafat di Beirut pada tanggal 17 Februari tahun 1944 Masihi bersamaan tahun Islam 1364 Hijrah.. Dan antara karya beliau yang lain ialah kitab dalam bidang bahasa dan sastra Arab, di antaranya Nazharat fi Al-lughah wa Al-Adab; Al-Islam Ruh Al-Nasyi’in; ‘Izhat An-Nasyi’in; Al-‘Ilmu Ad-Din; dan Diwan Al-Gulayaini. Dan lain-lainnya. Moga Allah meredhai,memberkati usaha beliau, dan menempatkan beliau dari kalangan para solihin dalam syurganya.. aminn ya robb.



Minggu, 18 April 2010

Tashrif Fi’il Tsulatsi Mazid (الفعل الثلاثي المزيد )

Assalamulaikum wbt.

Posting kali ini adalah sekadar perkongsian bersama, moga bermanfaat sekaliannya. Posting ini adalah ringkasan bab mengenai Tashrif Fi’il Tsulatsi Mazid (الفعل الثلاثي المزيد ) yaitu ia megandungi 12 Bab, dan yang kemudiannya akan dibahagi kepada tiga pembahagian kelompok. Antaranya :

1- Fi’il Tsulatsi Mazid Ruba’i

2- Fi’il Tsulatsi Mazid Khumasi

3- Fi’il Tsulatsi Mazid Sudasi


1- Fi’il Tsulatsi Mazid Ruba’i ialah fi’il tsulatsi mujarrod yang di tambah satu huruf pada fi’il madhi-nya.

Bab fi’il tsulatsi mazid ruba’i itu ada tiga. :

1. Mengikut Wazan فَعَّلَ
2. Mengikut wazan فَاعَلَ
3. Mengikut Wazan اَفْعَلَ


klik pada gambr untuk membesarkan



2. Fi’il Tsulatsi Mazid Khumasi ialah fi’il tsulatsi mujarrod yang ditambah dua huruf pada fi’il madhi-nya.

Bab fi’il tsulatsi mazid khumasi itu ada lima:

1. Mengikut Wazan اِنْفَعَلَ
2. Mengikut wazan اِفْتَعَلَ
3. Mengikut Wazan اِفْعَلَّ
4. Mengikut wazan تَفَعَّلَ
5. Mengikut Wazan تَفَاعَلَ


klik pada gambr untuk membesarkan



3. Fi’il Tsulatsi Mazid Sudasi ialah fi'il tsulatsi mujarrod yang ditambah tiga huruf pada fi’il madhi-nya.

Bab fi’il tsulatsi mazid sudasi itu ada empat :

1. Mengikut Wazan اِسْتَفْعَلَ
2. Mengikut wazan اِفْعَوْعَلَ
3. Mengikut Wazan اِفْعَوَّلَ
4. Mengikut wazan اِفْعَالَّ


klik pada gambr untuk membesarkan



Dan kepada siapa yang mahu copy bahan ini. al-faqir mempersilakan .... mg bermanfaat dan diberkati. Wallahu ‘alam

Jumat, 02 April 2010

Perbezaan di antara Masdar dan Isim Masdar

Masdar adalah lafazh yang menunjukkan erti pekerjaan atau peristiwa, sepi dari zaman serta memuat/mencakup semua huruf-huruf Fi’il-nya baik secara lafazh.

Seperti : عِلْمًا masdar dari lafazh عَلِمَ . atau sekira-kiranya lafazh قَاتَلَ - قِتَالاً . atau dengan mengantikan huruf yang dibuang seperti lafazh وَعَدَ - عِدَةً

Isim Masdar adalah lafazh yang menunjukkan erti pekerjaan,sepi dari zaman, namun tidak memuat/mencakup pada semua huruf Fi’il-nya bahakan ada yang dikurangi secara lafazh dan kira-kiranya seperti contoh : تَوَضَّا - وُضُوْءً

المصدر هو اللفظ الدال على الحدث، مجردا عن الزمان، متضمّنا أحرفَ فعلهِ لفظًا، مثلُ :

(( عَلِمَ عِلْمًا)) ، أو تقديرا ، مثل : ((قاتل قتالا)، أو مُعوَّضَا مما حُذِفَ بغيره ، مثل : ((وعد عدةً))، و((سلَّمَ تَسْليْمًا)).

(جامع الدروس ، الشيخ مصطفى الغلاييني، الجزء الأول : ١٦٠)

اسم المصدر : هو ما ساوى المصدر في الدلالة على الحدث، ولم يُساوِه في اشتماله على جميع أحرف فعله ، بل خلتْ هيئتُهُ من بعض أحرف فعله لفظًا وتقديرا من غير عوضٍ، وذلك مثل : ((توضّأ وضُوءً))، و((تَكَلَّمَ كلامًا )) و((أيسرَ يُسرًا)).

(جامع الدروس ، الشيخ مصطفى الغلاييني، الجزء الأول : ١٧٦)

Senin, 15 Maret 2010

٤- جدول النحوالأربعة في أنواع إعراب الأربعة وعلاماته الأصليّة والفرعيّة لكتاب الكواكب الدّرّية على متّمة الأجروميّة

JADUAL AL-KAWAKIB AD-DURRIYYAH (4)
Klik untuk membesarkannya


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Alhamdulillah .. ini adalah jadual yang keempat (4) dan terakhir dari kitab nahu al-Kawakib ad-Durriyyah pada tajuk :

باب معرفة علامة الإعراب

Perbahasan lebih lanjut mengenai jadual (4) al-Jazm ini .. .sila rujuk kitab :

الكواكب الدّرّية على متّمة الأجروميّة

Dan alfaqir juga meletakakan bersama al-jazm dengan mulahazhoh al-'ammah didalam jadual bagi menyimpul kesemua empat jadual yang sebelumnya. Dan kepada siapa yang mahu copy bahan ini. al-faqir mempersilakan .... mg bermanfaat dan diberkati.


P/s: Jika ada komentar & kesalahan yang terdapat dari jadual diatas. diharap ditegur dan bimbingan akan al-faqir. doakan alfaqir pada posting jadual akn datang... mg dimudahkan urusan dan masa yang dilapangkan oleh Allah s.w.t


Senin, 08 Maret 2010

جدول النحو الثالث في أنواع إعراب الأربعة وعلاماته الأصليّة والفرعيّة لكتاب لكواكب الدّرّية على متّمة الأجروميّة

JADUAL AL-KAWAKIB AD-DURRIYYAH (3)


klik pd gambar jika ingin membesarkan


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Alhamdulillah .. ini adalah jadual yang ketiga (3) dari kitab nahu al-Kawakib ad-Durriyyah pada tajuk :

باب معرفة علامة الإعراب

Perbahasan lebih lanjut mengenai jadual (3) الخفض ini .. .sila rujuk kitab :

الكواكب الدّرّية على متّمة الأجروميّة

Dan kepada siapa yang mahu copy bahan ini. al-faqir mempersilakan .... mg bermanfaat dan diberkati.


P/s: Jika ada komentar & kesalahan yang terdapat dari jadual diatas. diharap ditegur dan bimbingan akan al-faqir. doakan alfaqir pada posting jadual akn datang... mg dimudahkan urusan dan masa yang dilapangkan oleh Allah s.w.t

Rabu, 03 Maret 2010

Asal Lafadh اسم



Assalamulaikum ..

Ada pertanyaan mengenai apa asal lafadh اسم ?.

Jawapan :

Khilaf diantara ulama’ Bashrah dan Kufah.

Yaitu kalau menurut ulama’ Bashrah اسم terhasil dari lafadh سمو kerana lafadh سمو dalam erti lughat-nya adalah علوّ / luhur/tinggi/atas.

- menurut ulama’ Kufah اسم terhasil dari وسم kerana وسم erti lughat-nya adalah tanda (علامة).

Maklumat lanjut Rujuk kitab-kitab ini :

۱- الكواكب الدرية على متمّة الأجروميّة- الشيخ محمد بن أحمد بن عبد الباري الأهدَل ص:٢۹– دار الكتب العلمية.

سمي بذلك لسموه : أي علوه على معنى أخويه لاستغنائه عنهما وافتقارهما إليه. ومن ثمة قدم عليهما. وقيل من الوسم وهو العلامة لأنه علامة على مسماه.

٢- فتح الخبير اللطيف ، الشيخ إبراهيم البيجوري

والاسم مشتق عند البصريين من السمو فأصله سمو حذفت منه الواو التي هي لام الكلمة اعتباطا وسكن أوله تخفيفا وأتى بهمزة الوصل فوزنه افع وعند الكوفيين من وسم فأصله وسم حذفت منه الواو التي هي فاء الكلمة لما تقدم وأتى بهمزة الوصل فوزنه اعل اﻫ

Anda Mungkin Menjejakinya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...